Sebelum bermimpi, ada baiknya aku pergi tidur dulu bukan? Hehehe.
Oke baiklah, sekarang aku terbangun. Oh, dimana ini? Hei, kamarku terlihat bukan seperti biasanya, ini versi yang lebih keren. Di sampingku ada si adik yang masih tertidur. Ia terlihat sangat sehat. Yang kuingat terakhir kali ia
sedang bersedih karena tidak mempunyai uang untuk dapat makan siang bersama teman-temannya. Tapi sekarang lihatlah, raut wajah tidurnya menampakkan raut kebahagiaan.
Langsung aku bergegas pergi ke kamar mandi, mengingat hari ini aku harus pergi ke kampus. Kurasakan air ini membasahi tubuh. Bening,
bersih, segar.. Namun, tunggu! Sejak kapan acara mandiku semewah ini? Bukankah dulu air ini keruh dan warnanya kekuningan? Pemerintah
sedang berbaik hati, ya? Aku putuskan untuk tak memikirkan hal tersebut lebih
dalam dan bergegas mencari ibu untuk pamit karena ayah mungkin sudah pergi
lebih dulu untuk bekerja. Mataku melebar melihat ibu sedang menyuguhkan makanan, bahkan lebih terbelalak lagi saat melihat ruangan di rumah ini seakan sudah
direnovasi. Ibu menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu (padahal ibu jarang
membuat sarapan). Saat sedang makan, ibu memberiku sejumlah uang. Ayah habis
gajian, katanya. Sontak aku mengucap syukur dan memeluk ibu. Dengan cepat kuselesaikan makan sarapan yang mungkin akan tersedia bulan depannya lagi, lalu mencium tangan ibu untuk berpamitan. Dalam benakku masih banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang semua keajaiban yang kualami pagi ini.
Sesaat sebelum membuang sampah, ibu mengingatkan untuk
membuang sampah dipisah sesuai jenisnya. Untuk apa harus dipisah? Menyusahkan
saja. Akan tetapi, aku tetap menjalankan perintah sang ibu. Ketika sedang
memisah sampah di luar rumah, aku pun menyadari tempat sampah di depan rumahku terbagi menjadi 3 jenis. Kualihkan lagi fokus mata ke arah jalanan,
jalanan yang mulus, bahkan trotoar dan selokannya rapi, bersih, dan bebas dari
sampah. Tempat ini sebelumnya dinilai jauh dari kata baik, apakah perubahannya
secepat mengedipkan mata? Wah ini sangat hebat, sampai-sampai udara yang kuhirup
rasanya begitu segar.
Sepanjang jalan menuju kampus pun tampak wajah-wajah bahagia.
Saling menyapa satu sama lain, padahal mungkin mereka tidak saling mengenal.
Terlihat pula murid-murid yang siap bersekolah dengan semangat yang membuncah.
Ada apa ini? Anak-anak tidak pernah sebahagia ini untuk pergi sekolah. Kuikuti salah seorang murid SMP yang sedang menuju sekolahnya. Dan yang kulihat sungguh mencengangkan. SMP ini sudah diperbarui gedung dan lingkungan di
sekitarnya. Murid yang kuikuti tadi menyalami guru yang berpapasan dengannya
lalu berlari menuju kumpulan temannya. Mereka terlihat begitu akrab
bercengkrama bersama. Kalaupun aku diberi kesempatan untuk bersekolah disini, nampaknya aku akan merasa nyaman dan betah.
Ketika sudah mendekati kampus, aku menyiapkan sedikit uang
untuk diberikan kapada pengemis yang biasa duduk di sudut jalan. Akan tetapi,
dari kejauhan aku tidak melihat pengemis tersebut. Dimana dia? Apakah ia
sedang sakit? Baiklah, kuputuskan untuk tidak terlalu memikirkannya dan
langsung pergi ke warung tegal (atau bahasa kerennya, warteg) tempat aku biasa membeli makan siang. Dan di tempat inilah aku dikejutkan
oleh sebuah keajaiban, pengemis tersebut menjadi pelayan di warung ini.
Sejenak aku merasa air mata jatuh membasahi pipi. Inikah yang dinamakan kemurahan
hati dari Tuhan YME? Pengemis tersebut tidak mengenaliku, namun aku sudah
pasti tahu beliau. Maka itu, keinginan untuk menyapa aku urungkan dan
menyimpan rasa bahagia ini sendiri.
Sesampainya aku di kelas, aku merasakan sesuatu yang
berbeda. Ruangan ini memiliki AC yang tidak bekerja dengan baik, tetapi hari
ini kelas terasa lebih dingin. Kupikir juga beberapa meja dan kursi belajar
diperbaiki sehingga tampak seperti baru.
“Eh, kamu ngerasa nggak hari ini seisi kota menjadi lebih baik daripada kemarin?”,
tanyaku pada salah seorang teman.
“Maksudnya?”
“Bangun pagi aku ngerasa adikku terlihat sehat, padahal
sebelumnya ia terlihat kurus tak berdaya. Aku juga dibikinin sarapan sama ibu pas
tadi mau ke kampus. Lalu aku melihat jalanan yang tadinya bolong-bolong,
sekarang mulus. Terus tadi banyak anak-anak semangat banget buat pergi sekolah.
Yang paling mengejutkan lagi, pengemis yang biasa duduk di dekat kampus itu
sekarang udah dapet kerja jadi pelayan di warung makan. Sumpah aku ga siap dengan
semua perubahan ini!”, ceritaku.
“Kamu kayak baru keluar dari goa aja. Hei, semuanya udah kaya
gini dari awal”
“Hah?”
“Iya, itu semua karena pemerintah kita baik dalam
membangun negeri, mementingkan kesejahteraan rakyat, dan yang terpenting, anti
korupsi. Bukankah begitu pemerintah yang benar?”
Dan akhirnya aku hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya.
Rasanya aku tidak ingin bangun dari mimpi ini.
Note: tulisan ini dibuat sekitar 2 tahun lalu demi lulus nulis essay di mata kuliah Etika PNS hahahaha. Much love xoxo
No comments:
Post a Comment